Ketegangan AS – Iran Picu Kekhawatiran Energi Global, Trump Minta Bantuan 7 Negara Amankan Selat Hormuz

Foto Istimewa

Internasional, Detikfaktual.com – Ketegangan yang terus memanas di kawasan Teluk turut mengguncang pasar energi global, terutama terkait situasi di Selat Hormuz yang merupakan salah satu jalur utama pengiriman minyak dunia.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan pemerintahannya tengah bernegosiasi dengan tujuh negara untuk membantu mengamankan Selat Hormuz dan memastikan jalur pelayaran tetap terbuka di kawasan strategis tersebut. Sebagian besar jalur kapal tanker di wilayah itu dilaporkan telah diblokir Iran.

“Saya menuntut agar negara-negara ini datang dan melindungi wilayah mereka sendiri, karena itu adalah wilayah mereka,” kata Trump kepada wartawan di atas pesawat Air Force One saat penerbangan dari Florida menuju Washington, Minggu (15/3/2026).

Trump tidak merinci negara mana saja yang terlibat dalam pembicaraan tersebut. Namun Australia sebelumnya telah menyatakan tidak akan mengirimkan kapal angkatan laut untuk membantu membuka kembali selat tersebut.

Dalam wawancara dengan Financial Times, Trump juga memperingatkan bahwa sekutu NATO dapat menghadapi “masa depan yang sangat buruk” jika tidak meningkatkan dukungan terhadap upaya Amerika Serikat dalam menghadapi Iran.

Di tengah meningkatnya ketegangan, para petinggi perusahaan minyak besar dunia mulai menyuarakan kekhawatiran terhadap potensi dampak konflik tersebut terhadap pasar energi global.

Mengutip laporan The Wall Street Journal, kepala eksekutif ExxonMobil, Chevron, dan ConocoPhillips disebut telah memperingatkan pejabat pemerintahan Trump bahwa gangguan terhadap aliran minyak melalui Selat Hormuz berpotensi memperparah krisis energi dunia.

Para eksekutif tersebut menilai ketidakstabilan berkepanjangan di sekitar jalur laut strategis itu dapat memicu volatilitas harga minyak, memperketat pasokan energi, serta meningkatkan risiko kekurangan produk olahan di pasar global.

Di sisi lain, Trump juga menuding Iran memanfaatkan kecerdasan buatan serta media yang bersimpati untuk menyebarkan klaim palsu terkait kondisi di medan perang.

Melalui unggahan di media sosial, Trump membantah laporan mengenai kerusakan pada pesawat maupun kapal militer Amerika Serikat. Ia bahkan memperingatkan bahwa organisasi media yang menyiarkan laporan tersebut dapat menghadapi konsekuensi hukum, dan menyarankan sebagian pihak bisa didakwa atas tuduhan pengkhianatan.

(Asp)

Tinggalkan Balasan