JAKARTA,Detikfaktual.com – Usai viralnya laporan warga melalui aplikasi Jakarta Kini (JAKI) yang diduga mendapat “respons” dari sistem kecerdasan buatan (AI), publik justru menemukan kejanggalan baru yang kian memperkuat dugaan adanya praktik manipulasi dalam penanganan laporan.
Alih-alih meningkatkan kepercayaan, sistem tersebut kini menjadi sorotan karena dinilai tidak transparan dan cenderung “memoles” laporan tanpa disertai penyelesaian nyata di lapangan. Sejumlah warganet membagikan pengalaman serupa yang menunjukkan pola respons yang dianggap tidak wajar.
Salah satu temuan diungkap akun Thread @glensaimima. Ia mengaku mengalami kejadian serupa, di mana laporannya diproses dengan perubahan waktu respons, namun menggunakan foto yang identik dengan laporan sebelumnya.
“Setelah rame laporan JAKI pakai AI… sebenarnya itu bukan kecerdasan. Justru kejadian ini sudah lama dengan modus yang lebih ‘cerdas’, bukan pakai AI. Tapi petugas pakai foto yang sama dalam dua laporan berbeda, yang diubah hanya ‘time stamp’-nya,” tulisnya dalam unggahan yang dilihat pada Selasa (8/4/2026).

Temuan ini memunculkan pertanyaan serius terkait keabsahan proses verifikasi dalam sistem JAKI. Jika dugaan tersebut benar, maka mekanisme pelaporan yang seharusnya menjadi solusi justru berpotensi berubah menjadi formalitas administratif tanpa tindak lanjut konkret.
Respons publik pun menguat. Sejumlah warganet mempertanyakan apakah laporan yang mereka sampaikan benar-benar ditindaklanjuti, atau hanya disesuaikan agar terlihat selesai di dalam sistem.
Fenomena ini menyoroti persoalan yang lebih dalam dari sekadar teknologi. Penggunaan AI, tanpa diiringi transparansi dan pengawasan yang memadai, dinilai berisiko menjadi lapisan baru yang menutupi praktik lama yang selama ini telah menjadi sorotan masyarakat.
(Rwn)








