Serangan Israel Terhadap Tenda Media di Luar Rumah Sakit Gaza Menewaskan dan Melukai Jurnalis

Selasa, 8 April 2025 - 08:20 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Detikfaktual— Di sebuah tenda sederhana dekat Rumah Sakit Nasser di Khan Younis, Gaza, para jurnalis berjuang menjaga denyut kebenaran tetap berdetak. Mereka bukan tentara. Senjata mereka: kamera, pena, dan kesaksian. Namun, pada suatu malam, suara itu di bungkam oleh api. Tenda mereka di bakar. Helmi al-Faqaawi dan Ahmed Mansour gugur. Kamera meleleh. Dunia kembali membisu.

Api menyala dari terpal biru yang koyak di hantam ledakan. Di bawahnya, tubuh-tubuh terbakar. Kamera yang dulu menangkap denyut kehidupan kini menjadi logam mati, membungkam kisah yang tak sempat di ceritakan. Di antara reruntuhan tenda pers itu, Helmi al-Faqaawi syahid. Di sisi lain, tubuh Ahmed Mansour sempat terlihat mengerang, terbakar, sebelum akhirnya diam.

Serangan udara pada Minggu malam (6/4) itu tidak menyasar pangkalan militer, tidak juga tempat peluncuran roket. Yang di hantam adalah tenda tempat para jurnalis tidur, bekerja, dan mengirimkan gambar-gambar luka ke dunia yang sudah lama menutup mata.

Sore yang Sunyi Sebelum Neraka Turun

Beberapa jam sebelum serangan, suasana di tenda wartawan masih tenang. Mereka berkumpul, berbagi informasi, menyalin file, mengisi baterai, dan menulis cepat sebelum listrik padam. Hassan Aslih, salah satu jurnalis senior di Gaza, sedang menunjukkan dokumentasi anak-anak yang tewas karena kelaparan di Rafah.

“Saya tidak tahu apakah kita bisa menyebarkannya,” katanya. “Internet lambat. Dan siapa yang masih peduli?”

Tak ada yang menyangka malam itu, sebuah drone Israel akan mengunci koordinat tenda yang sudah mereka tandai dengan cat putih bertuliskan PRESS.

Api dari Langit

Pukul 21.12 waktu setempat. Suara mendesing turun dari langit. Ledakan pertama menghancurkan sisi barat tenda. Ledakan kedua menyalakan api besar, menyambar kanvas, tumpukan kabel, laptop, dan generator kecil. Beberapa jurnalis terlempar. Helmi tak sempat bergerak. Ahmed mencoba menyelamatkan kameranya, sebelum api menelannya.

Menurut saksi mata, Helmi sempat berteriak, “Jangan tinggalkan kamera… Dunia harus lihat!”

Itu kalimat terakhirnya sebelum suaranya hilang dalam kobaran.

Pembantaian yang di dokumentasikan

Dalam konferensi pers darurat keesokan paginya, Kantor Informasi Pemerintah Gaza menyebut serangan ini sebagai bagian dari kebijakan sistematis militer Israel untuk “menghancurkan saksi sejarah.”

“Sejak awal perang, 210 jurnalis telah menjadi martir. Mereka bukan korban salah sasaran. Mereka adalah target.”

Asosiasi Jurnalis Palestina mengungkap bahwa banyak wartawan menerima ancaman pembunuhan dari akun yang terhubung dengan jaringan militer Israel. Beberapa bahkan telah menulis surat wasiat untuk keluarga, karena mereka tahu, kamera bisa lebih mematikan dari peluru.

Tubuh Terbakar, tapi Narasi Menyala

Beberapa nama yang selamat dari malam itu: Hassan Aslih, Ahmad Agha, Mohammad Faiq, Ihab Bardini, Mahmoud Awad, Ahmad Mansour, Ali Aslih, Majid Qadeeh, dan Abdullah Attar. Sebagian besar mengalami luka bakar derajat dua hingga tiga. Namun mereka menolak di evakuasi.

“Kami tidak akan diam. Jika suara kami di bakar, bara itu akan menyalakan pena-pena baru,” ujar Ahmad Agha dari ranjang rumah sakit, dengan tangan berbalut perban dan infus di lengannya.

Kamera Bukan Senjata, Tapi Saksi

Jurnalisme di Gaza bukan sekadar profesi. Ia adalah bentuk perlawanan. Di tengah ambulans yang di bom, rumah sakit yang di hancurkan, dan lembaga HAM yang hanya mengeluarkan pernyataan standar, kamera menjadi alat terakhir untuk menantang narasi penjajahan.

Serangan terhadap tenda wartawan bukan sekadar kejahatan perang. Itu adalah pesan: bahwa kebenaran adalah musuh paling di takuti oleh rezim fasis.

Namun ada satu hal yang tak bisa di bakar: memori. Dalam ingatan kami—dan dalam memori kolektif bangsa yang terus melawan, nama seperti Helmi al-Faqaawi dan Ahmed Mansour akan terus di sebut. Bukan hanya sebagai jurnalis. Tapi sebagai martir pena, prajurit kata, dan pejuang keadilan. (AN)

Baca Juga :  Pedagang Sayur Kakak Beradik di Tangkap Polisi ,Curi Motor

Berita Terkait

Kabel Listrik 20.000 KV di Jembatan Gantung Cengkareng Terbakar, Diduga Pembakaran Sampah
Pengedar Obat Keras Ilegal Diciduk di Toko Tembakau Tangerang Selatan
Polisi Gadungan Dibekuk Jajaran Polsek Jatiuwung, Dua Pelaku Lainnya DPO
Polsek Neglasari Gagalkan Transaksi Ribuan Obat Keras di Pakuhaji
Tolak Uang Jatah Preman, Pedagang Buah di Ciledug Diserang, Pelaku Langsung Diamankan Polisi
Kepedulian Lurah kapuk Bantu Seorang Anak Yang Diduga Mengalami Gizi Buruk
Lurah Kapuk Arief Pasang Badan Tangani Anak Diduga Gizi Buruk
Kades Kampung Melayu Barat Gercep Tangani Kebakaran Sampah

Komentar

Berita Terkait

Kamis, 9 Juli 2026 - 16:08 WIB

Kabel Listrik 20.000 KV di Jembatan Gantung Cengkareng Terbakar, Diduga Pembakaran Sampah

Rabu, 8 Juli 2026 - 15:12 WIB

Pengedar Obat Keras Ilegal Diciduk di Toko Tembakau Tangerang Selatan

Senin, 6 Juli 2026 - 20:38 WIB

Polisi Gadungan Dibekuk Jajaran Polsek Jatiuwung, Dua Pelaku Lainnya DPO

Minggu, 5 Juli 2026 - 14:54 WIB

Polsek Neglasari Gagalkan Transaksi Ribuan Obat Keras di Pakuhaji

Jumat, 3 Juli 2026 - 14:30 WIB

Tolak Uang Jatah Preman, Pedagang Buah di Ciledug Diserang, Pelaku Langsung Diamankan Polisi

Berita Terbaru