Jakarta, Detikfaktual – Bank Pembangunan Asia (Asian Development Bank/ADB) telah mempersiapkan rangkaian pendanaan di 2026 untuk berbagai proyek penting di Indonesia. Nilainya yang telah masuk dalam daftar pengerjaan atau pipeline senilai US$ 2,7 miliar atau Rp 45,22 triliun (kurs Rp 16.749).
Direktur ADB untuk Indonesia, Bobur Alimov, mengatakan pendanaan tersebut untuk mendukung reformasi kebijakan berupa pendalaman sektor keuangan, serta reformasi kebijakan dalam tata kelola daerah, ketahanan air, transisi energi berkelanjutan dan perlindungan laut.
“Rangkaian proyek penting ADB untuk Indonesia pada 2026 telah mencapai nilai indikatif US$ 2,7 miliar yang mendukung reformasi kebijakan berupa pendalaman sektor keuangan, serta reformasi kebijakan dalam tata kelola daerah, ketahanan air, transisi energi berkelanjutan dan perlindungan laut,” kata Alimov dalam keterangan tertulis, Kamis (26/2/2026).
Pada 2025, ADB memberi komitmen US$ 2,4 miliar kepada Indonesia dalam bentuk pinjaman yang dijamin pemerintah sehingga mendukung reformasi kebijakan, percepatan perdagangan, meningkatkan produktivitas melalui program pembangunan modal manusia termasuk kesehatan dan pendidikan, serta transisi energi berkelanjutan. Sementara itu, operasi sektor swasta ADB (yang tidak dijamin pemerintah) memberi komitmen US$ 150 juta pada 2025.
Sejak 1966 ADB telah bermitra dengan Indonesia untuk memperkuat infrastruktur, pertanian dan pembangunan modal manusia. Indonesia adalah anggota pendiri ADB dan pemegang saham terbesar keenamnya.
“ADB bangga telah mendampingi Indonesia sebagai mitra terpercaya selama hampir 60 tahun. Sejarah panjang kami di Indonesia mencerminkan pemahaman mendalam tentang kearifan lokal dan komitmen bersama bagi kemajuan Indonesia,” tutur Alimov.
Kemitraan itu terus berkembang seiring waktu mulai dari fokus kuat pada pertanian selama 1970-an, hingga pembangunan infrastruktur transportasi dan energi selama 1980-an, kemudian reformasi struktural selama 1990-an. ADB merespons dengan dukungan yang segera di tengah masa-masa penuh gejolak termasuk ketika Krisis Keuangan Asia (1997-1998), Gempa dan Tsunami Aceh 2004, serta pandemi COVID-19.
Saat ini ADB terus memajukan pembangunan infrastruktur dan modal manusia, selaras dengan prioritas Asta Cita Indonesia dan Strategi Kemitraan Negara (Country Partnership Strategy) 2025-2029 yang tak hanya menawarkan pembiayaan, tetapi juga keahlian praktis, dukungan kebijakan dan solusi jangka panjang guna membantu Indonesia menghadapi tantangan kompleks.
“Kami mempertahankan keselarasan erat dengan visi pemerintah sehingga lebih dari sekadar pembiayaan, kami pun memberikan pengetahuan, saran kebijakan dan kemitraan jangka panjang demi mencapai Visi Indonesia Emas 2045,” imbuhnya.
sumber: detikfinance


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.