JAKARTA,Detikfaktual.com – Detasemen Khusus Antiteror (Densus 88 AT) Polri menggelar Rakernis Tahun 2026 pada 18–20 Mei 2026 dengan fokus memperkuat strategi kolaboratif dalam penanggulangan ekstremisme berbasis kekerasan dan terorisme di ruang digital. Rakernis ini menyoroti perubahan pola terorisme modern.
Sejumlah akademisi menilai ancaman ekstremisme kini tidak lagi bergerak dengan pola lama yang terstruktur, melainkan berkembang lebih cair melalui ruang digital, algoritma media sosial, hingga kerentanan psikologis generasi muda.
Dalam kegiatan bedah buku Gamifikasi Kekerasan dalam Teror Modern di Era Digital, Wakapolri Komjen Pol Dedi Prasetyo, menegaskan bahwa upaya pencegahan harus diperkuat melalui peningkatan literasi digital, perlindungan anak, serta deteksi dini terhadap potensi paparan radikalisme.
Menurutnya, perkembangan teknologi informasi telah mengubah pola penyebaran paham ekstremisme menjadi lebih masif dan sulit terdeteksi apabila tidak diimbangi dengan penguatan edukasi serta pengawasan di ruang digital.
“Pencegahan harus diperkuat melalui literasi digital, perlindungan anak, dan deteksi dini,” ujar Dedi dalam forum tersebut.
Sementara itu, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Eddy Hartono menilai penanggulangan ekstremisme tidak dapat dilakukan secara parsial, melainkan membutuhkan kolaborasi lintas sektor, baik pemerintah, aparat keamanan, akademisi, hingga masyarakat sipil.
Ia menekankan pentingnya sinergi dalam membangun ketahanan masyarakat terhadap penyebaran ideologi kekerasan yang kini semakin adaptif memanfaatkan teknologi digital.
Para akademisi yang hadir juga mengingatkan bahwa proses radikalisasi saat ini dipengaruhi berbagai faktor baru, mulai dari algoritma media sosial, identitas digital, hingga persoalan psikologis yang membuat generasi muda lebih rentan terpapar paham ekstremisme.
Mereka menilai, pendekatan keamanan semata tidak lagi cukup untuk menghadapi ancaman terorisme modern. Dibutuhkan pendekatan multidisipliner yang menyentuh aspek pendidikan, kesehatan mental, sosial, dan penguatan literasi masyarakat di era digital.
(AN)








Komentar
Silakan login untuk berkomentar.