Cerita Romlah Salah Satu Sopir Truk Perempuan Yang Ikut Demo di Pelabuhan Tanjung Priok

Rabu, 12 Februari 2025 - 07:28 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta – Romlah, perempuan berusia 31 tahun asal Jakarta, berprofesi sebagai pengemudi truk kontainer. Dia adalah salah seorang dari ratusan sopir truk yang mengikuti aksi demonstrasi di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara untuk menuntut perbaikan tata kelola pelabuhan oleh PT Pelabuhan Indonesia atau Pelindo.

Romlah mulai mengemudikan truk sejak 2019. Awalnya, dia mengikuti suaminya yang berprofesi sebagai sopir truk kontainer. Dia kemudian ikut membantu menjadi sopir untuk membantu biaya hidup keluarganya.

Ia menuturkan ikut protes bersama para sopir lainnya karena masalah yang mereka hadapi sudah parah. Di antaranya kemacetan karena antrean bongkar muat, pengenaan biaya masuk bagi truk kontainer di Pelabuhan Tanjung Priok, hingga pemalakan oleh preman-preman. “Kami harus ikut berpartisipasi, karena sudah meresahkan banget,” kata dia saat mengikuti aksi pada Selasa, 11 Februari 2025.

Ia mengatakan pendapatannya sebagai sopir truk masih tidak pasti. Dia hanya mengantongi sebagian dari uang jalan yang diberikan pemilik truk untuk setiap pengantaran kontainer. Dari uang jalan yang diberikan, dia harus membeli bensin, membayar gerbang tol, hingga menanggung biaya-biaya lainnya.

Ia hanya mendapatkan Rp 50-100 ribu untuk setiap perjalanan mengantar kontainer. Dia berujar pekerjaan mengantar kontainer juga belum tentu ada setiap hari.

Baca Juga :  Sopir Truk di Duga Bawa Kabur Beras 15 Ton, Polres Jakarta Barat Lakukan Olah TKP

Jumlah tersebut masih dipotong oleh para preman yang beraksi di sekitar pelabuhan. “Kalau saya enggak ngasih, pintu digebrak-gebrak, ada yang ditodong, ada yang dicuri handphone-nya,” ucap perempuan yang memiliki satu anak itu.

Ia juga memprotes biaya masuk pelabuhan yang dikenakan ke truk-truk kontainer. Dia menyebut sopir yang membawa kontainer ke pelabuhan harus membayar biaya saat melewati gerbang masuk.

Biaya tersebut mengurangi pendapatan yang bisa didapat sopir. “Uang jalan kami sudah mepet, di-pressure (ditekan) sama yang punya mobil. Giliran masuk pelabuhan, disuruh bayar Rp17 ribu,

masuk kawasan Rp10 ribu. Belum nanti pungli-pungli. Kami sisa apa? Mau makan pakai apa kami?”seperti yang dikutip dari tempo

Ia mengatakan pendapatannya sudah pas-pasan dengan jam kerja yang panjang. Menurut dia, seorang sopir bisa bekerja dari pagi hingga pagi hari berikutnya untuk mengantarkan kontainer dari atau ke pelabuhan. Salah satu penyebab panjangnya jam kerja tersebut adalah lamanya antrean bongkar muat di pelabuhan.

Ia menyampaikan kondisi kerjanya sebagai pengemudi truk saat ini tidak ideal untuk menghidupi anaknya. “Pengaruh banget ke anak, kami juga bingung buat ke dapur bagaimana untuk menyisihkan. Sedangkan buat makan aja kami ngepas, kalau sendiri cukuplah, tapi ini ada tanggungan,” ujar dia.

Baca Juga :  Sopir Plat Luar Daerah Mengaku Dipaksa Bayar Rp300 Ribu Sekali Melintas di Kawasan Dadap

Para sopir menggelar aksi hari ini di tiga titik. Ketiganya adalah pintu New Priok Container Terminal One (NPCT1), Polres Jakarta Utara, dan Pelindo Tower. Mereka melakukan aksi longmars sejauh lima kilometer untuk demonstrasi hari ini. Koordinator Keluarga Besar Sopir Indonesia (KBSI) Nuratmo mengklaim aksi hari ini diikuti sekitar 500-an orang.

Para sopir menuntut penyelesaian sejumlah masalah di Pelabuhan Tanjung Priok. Di antaranya soal perbaikan sistem operasi pelabuhan agar tidak terjadi antrean mengular, penghapusan biaya masuk pelabuhan atau gate pass, pemberantasan pungutan liar oleh preman, hingga perbaikan fasilitas di pelabuhan.

Sementara itu, PT Pelindo mengklaim siap menindaklanjuti aspirasi para sopir truk kontainer soal kondisi operasional di Pelabuhan Tanjung Priok. “Pelindo terbuka menerima aspirasi kawan-kawan pengemudi truk kontainer. Kami juga akan mengkoordinasikan aspirasi tersebut dengan pemangku kepentingan terkait di pelabuhan, untuk menemukan solusi bersama,” kata Executive General Manager Pelindo Regional 2 Tanjung Priok Adi Sugiri melalui keterangan tertulis pada Selasa, 11 Februari 2025.

Adi mengatakan salah satu penyebab kepadatan antrean di Pelabuhan Tanjung Priok adalah karena meningkatnya arus bongkar muat. “Kami memohon maaf apabila dalam pelayanan kepada para sopir masih terdapat kekurangan, ini akan menjadi momentum untuk melakukan evaluasi dan perbaikan pelayanan khususnya dari sisi pelayanan receiving/delivery,” ucap dia.(*)

(Kurniawan)

 

Berita Terkait

Pemprov DKI Awasi Distribusi BBM-Elpiji, Antisipasi Krisis Energi
Sopir Plat Luar Daerah Mengaku Dipaksa Bayar Rp300 Ribu Sekali Melintas di Kawasan Dadap
Info Rekayasa Lalin Malam Renungan di Kawasan Monas, Ini Rute Pengalihannya
Jelang Haji 2026, Polri Bentuk Satgas Khusus Tindak Haji Ilegal
Berawal dari Ojol, Polisi Berhasil Mengungkap Peredaran Narkoba
William Soroti Penertiban Pak Ogah dan Jukir Liar: Setelah di Tangkap Bukan Dibina, Tapi Dihukum
Polda Metro Jaya Bongkar Pengoplosan Elpiji Subsidi, Total Kerugian Negara Hingga Miliaran
Bareskrim Bongkar Sindikat Phishing Lintas Negara, Raup Rp25 Miliar
Tag :

Berita Terkait

Sabtu, 18 April 2026 - 08:38 WIB

Pemprov DKI Awasi Distribusi BBM-Elpiji, Antisipasi Krisis Energi

Jumat, 17 April 2026 - 21:05 WIB

Sopir Plat Luar Daerah Mengaku Dipaksa Bayar Rp300 Ribu Sekali Melintas di Kawasan Dadap

Jumat, 17 April 2026 - 20:50 WIB

Info Rekayasa Lalin Malam Renungan di Kawasan Monas, Ini Rute Pengalihannya

Jumat, 17 April 2026 - 19:43 WIB

Jelang Haji 2026, Polri Bentuk Satgas Khusus Tindak Haji Ilegal

Jumat, 17 April 2026 - 19:16 WIB

Berawal dari Ojol, Polisi Berhasil Mengungkap Peredaran Narkoba

Berita Terbaru