Washington DC, Detikfaktual.com – Presiden Amerika Serikat Donald Trump merencanakan penerapan blokade jangka panjang terhadap Iran. Kebijakan ini muncul di tengah gencatan senjata yang masih berlangsung serta mandeknya perundingan antara kedua negara.
Mandeknya jalur diplomasi membuat Washington mengkaji opsi baru untuk meningkatkan tekanan. Dalam pertemuan dengan pejabat keamanan tingkat tinggi, Trump disebut tengah menyiapkan langkah lanjutan guna menekan ekonomi Iran secara berkelanjutan.
Dilansir The Wall Street Journal, strategi tersebut difokuskan pada pembatasan ekspor minyak Iran. Upaya ini dilakukan dengan menghambat pengiriman ke dan dari pelabuhan utama negara tersebut.
Meski dinilai berisiko tinggi, Trump melihat blokade sebagai opsi yang lebih terkendali dibandingkan melanjutkan serangan militer atau menarik diri dari konflik. Hal ini juga sejalan dengan tuntutan AS agar Iran menghentikan pengayaan nuklir selama 20 tahun, serta menerima pembatasan tambahan setelahnya.
Trump menilai tawaran Iran belum menunjukkan itikad baik dalam negosiasi. Tawaran tersebut mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz serta penundaan pembahasan nuklir ke tahap berikutnya.
Sementara itu, juru bicara Gedung Putih Anna Kelly menyatakan bahwa Amerika Serikat telah mencapai target militernya. Ia menegaskan bahwa rencana blokade pelabuhan Iran dinilai mampu memberikan tekanan maksimal untuk mencegah Teheran mengembangkan senjata nuklir.
Di sisi lain, sejumlah pejabat AS menilai konflik yang telah berlangsung beberapa pekan ini berpotensi berakhir tanpa kesepakatan nuklir maupun kelanjutan perang. Situasi ini mencerminkan ketidakpastian arah penyelesaian krisis yang masih terus berkembang.
(Ags)









