JAKARTA, Detikfaktual.com – Raden Ajeng Kartini dinilai sebagai sosok penting yang melahirkan gagasan kesetaraan dan pendidikan bagi perempuan Indonesia sejak masa kolonial. Nilai-nilai filosofinya pun disebut tetap relevan dan tidak boleh hilang di tengah perkembangan zaman modern.
Hal tersebut disampaikan Selvi Gibran Rakabuming saat menerima audiensi Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) di Kediaman Resmi Wakil Presiden, Jakarta Pusat, Senin (14/4/2026). Pertemuan itu membahas penguatan peran perempuan, kesetaraan gender, serta rangkaian peringatan Hari Kartini 21 April 2026.
Selvi menyambut baik pencanangan April sebagai bulan pemberdayaan perempuan oleh sejumlah kementerian. Ia menilai langkah tersebut sejalan dengan Asta Cita keempat Presiden Prabowo Subianto terkait penguatan sumber daya manusia dan kesetaraan gender.
Menurutnya, perempuan saat ini telah mengalami kemajuan signifikan di berbagai bidang. Capaian tersebut tidak terlepas dari warisan perjuangan Kartini dalam membuka akses kesetaraan bagi perempuan Indonesia.
“Banyak sekali perempuan Indonesia sekarang sudah bisa berada di posisi-posisi yang sangat luar biasa. Mungkin kita juga bisa seperti ini berkat apa yang sudah diperjuangkan Kartini dari zaman dulu,” ujar Selvi, dikutip dari laman wapresri.go.id, Selasa (21/4/2026).
Ia juga mengapresiasi semakin banyak perempuan yang menduduki posisi strategis sebagai bukti keberlanjutan perjuangan emansipasi yang telah dirintis Kartini.
Namun demikian, Selvi menegaskan pentingnya menjaga nilai-nilai perjuangan tersebut agar tidak luntur. Ia menilai generasi muda perlu terus memahami dan mengamalkan filosofi Kartini sebagai pegangan di masa depan.
“Mungkin pada saat itu tidak ada yang mempunyai gagasan seperti itu. Tapi Kartini memiliki pemikiran untuk menyetarakan hak laki-laki dan perempuan, dan itu kita rasakan sampai sekarang,” katanya.
“Dan tentu saja, itu harus selalu kita gaungkan, khususnya kepada generasi muda. Jangan sampai nilai-nilai filosofi Kartini itu hilang,” sambungnya.
Selvi menekankan, peringatan Hari Kartini tidak boleh hanya bersifat simbolik, tetapi harus mendorong kesadaran nyata terhadap perlindungan perempuan.
Ia mengingatkan, masyarakat perlu memahami langkah yang tepat saat menghadapi kasus kekerasan agar korban mendapatkan perlindungan dan pendampingan berkelanjutan.
“Tidak hanya soal sejarah Kartini, tapi ada nilai yang harus terus diangkat. Sampai sekarang masih banyak perjuangan perempuan yang harus diperhatikan,” ujarnya.
Ia menambahkan, berbagai persoalan seperti kekerasan seksual, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), hingga pernikahan dini masih menjadi tantangan yang harus dihadapi bersama.
“Itu adalah salah satu awareness yang harus kita bangun di Hari Kartini ini kepada perempuan-perempuan Indonesia,” pungkasnya.
(Rwn)









